Perkenalkan… Namaku,
Muh. Faisal Mus. Kau boleh memanggilku, Ical. Abang cakep juga boleh, tapi
setelah menikah ya. Ha ha ha... Maksa ya kedengarannya?. Lupakan kalau begitu!.
Duhai Untukmu… Tsah... Saat catatan ini
usai rampung, umurku telah menginjak kepala dua diangka delapan. Cukup tua
bukan untuk menyadandang predikat sebagai lajang?. Oh astaga, ini namanya Lambu-lambuang atau bulumanukang dalam istilah Bugisnya.
Pekerjaanku
saat ini, sebagai pegawai kontrak disebuah perusahaan swasta dibidang
telekomunikasi. Yup… pegawai kontrak yang sewaktu-waktu bisa terlindas oleh sistem
itu sendiri. Soal gaji, Insya Allah mencukupi sepanjang kita berhemat.
Saat ini, masih menumpang di rumah salah
seorang saudara. Menyedihkan sekali bukan?. Bahkan, kata salah seorang temanku
yang dari Jakarta “Gak modal baget sih lu jadi cowot”. Tapi tidak mengapa! Toh
semua ini aku lakukan demi sebuah alasan ‘Save Uang Panaik’.
Beberapa hari belakangan ini
juga, aku mulai terbiasa untuk tidak merokok. Padahal sebelumnya, aku termasuk perokok
aktif kelas berat. Tiada hari tanpa asap. Aku pikir, sampai hidupku berakhir,
asap akan terus mengepul dari bibirku. Tapi ternyata tidak, aku bisa
melewatinya.
Lidah terasa kelu, tenggorokan
terasa pahit, liur terasa sepat, sampai hari ini aku masih mengalaminya. Sulit
memang, tapi aku masih berusaha menaklukkannnya. Mudah-mudahan aku bisa
bertahan dalam kondisi seperti ini dalam jangka waktu yang cukup lama. Ataukah
selama-lamanya.
Dahulu alasanku bertahan
sebagai penghisap rokok, demi membunuh rasa sepiku saat malam bertandang di langit kotaku. Itu karena
ketiadaanmu. Malam adalah waktuku untuk merindukanmu.
Namun sekarang, alasanku
berhenti merokok -alasan ketiga dari sekian banyak alasan-, karena aku ingin
mencintaimu dengan qalbu yang bersih tidak ternoda oleh zat berbahaya apapun.
Yeah…