Ayah…
laki-laki yang mencintai anakmu, yang mengharapkan anakmu menjadi istrinya,
bukanlah seorang pegawai yang bergaji tinggi. Bukan juga anak dari seorang
kolongmerat yang hartanya tidak akan habis 9 turunan. Apalagi anak dari seorang
koruptor –Ih ngeri sekali perkerjaan ini.
Ayah... laki-laki
ini hanya seorang pegawai biasa dengan gaji biasa-biasa saja. Tidak banyak
memang, namun cukup untuk menghidupi anak gadismu yang engkau sangat kasihi.
Bahkan cukup, untuk menghidupi keluarga kecil kami nantinya jika saja kami
pandai mencukup-cukupkannya.
Ayah… Laki-laki
ini mahfum, apabila engkau bimbang menentukan keputusan atas permintaanku.
Memang saat ini, ada banyak faktor yang meragukan dalam hidupku. Tapi percayalah,
laki-laki ini juga bukan seorang bajingan yang akan merobek kepercayaanmu,
menelantarkan anakmu, lalai dari tanggung jawabnya.
Ayah… tahukah
engkau kenapa Nabi Adam AS masih membutuhkan kehadiran seorang Hawa, sementara
beliau hidup di tempat yang penuh kesenangan abadi. Karena beliau pun merasakan
hal yang sama denganku. Kesepian.
Ayah…
laki-laki ini sangat mencintai anak gadismu. Besar harapannya melihat
keturunannya lahir dan besar di dalam dekapan putrimu. Izinkanlah ayah, laki-laki
ini mempersunting anak gadismu yang sangat dicintainya!.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar