Dia
(AFF)
Bukan
bermaksud mencari perbandingan di antara keduanya, melainkan hanya ingin mencocokkan
apa arti dari kesamaan itu. Bukankah cinta juga menawarkan rasa perih?. Namun
jika dalam dua kasus yang berbeda rasa perihnya sama saja, apakah itu juga layak
disebut mencintai?
Dulu,
pernah ada dia yang lain yang hadir dalam hidupku. Bahagia? Tentu saja itu
pasti. Sedih? itu adakalanya. Tertawa? terlalu sering kami lalui bersama. Berdua,
aku tahu betapa indahnya dunia tempat berpijak ini. Di dekatnya, terasa jelas
bahwa energi cinta mampu menghangatkan jiwa yang telah beku.
Lalu
dia… Kenapa harus dia? Rasa yang sama yang hadir saat dia yang lain pergi dari
sisiku. Sakit, terasa sakit, dalam menghujam ulu hati. Bukankah itu aneh?
Bahkan disaat aku mencoba mengalihkan perhatianku pun, tetap saja dia yang ini
mampu menabur perih di relung hati.
Bukan
kali ini saja aku merasakannya. Entah bermula dari mana, aku tidak tahu. Bahkan
untuk sekedar tahu ; Kenapa berterusan terhujam perih, itupun terasa buram
bagiku.
Aku
tertikam perih. Entah apa. Entah kenapa. Tiap hari. Berterusan. Beririsan.
Hampir tanpa jeda. Karena dia. Ya, dia yang ini yang datang belum lama
belakangan ini.
Percayakah
kau tentang cinta? Baiklah, sebelum aku akhiri monolog hati ini, maukah kau mengganti
perih ini dengan bahagia?
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar