Sabtu, 21 Juni 2014

Monolog Hati : Dia (AFF)



Dia (AFF)
Bukan bermaksud mencari perbandingan di antara keduanya, melainkan hanya ingin mencocokkan apa arti dari kesamaan itu. Bukankah cinta juga menawarkan rasa perih?. Namun jika dalam dua kasus yang berbeda rasa perihnya sama saja, apakah itu juga layak disebut mencintai?
Dulu, pernah ada dia yang lain yang hadir dalam hidupku. Bahagia? Tentu saja itu pasti. Sedih? itu adakalanya. Tertawa? terlalu sering kami lalui bersama. Berdua, aku tahu betapa indahnya dunia tempat berpijak ini. Di dekatnya, terasa jelas bahwa energi cinta mampu menghangatkan jiwa yang telah beku.
Lalu dia… Kenapa harus dia? Rasa yang sama yang hadir saat dia yang lain pergi dari sisiku. Sakit, terasa sakit, dalam menghujam ulu hati. Bukankah itu aneh? Bahkan disaat aku mencoba mengalihkan perhatianku pun, tetap saja dia yang ini mampu menabur perih di relung hati.
Bukan kali ini saja aku merasakannya. Entah bermula dari mana, aku tidak tahu. Bahkan untuk sekedar tahu ; Kenapa berterusan terhujam perih, itupun terasa buram bagiku.
Aku tertikam perih. Entah apa. Entah kenapa. Tiap hari. Berterusan. Beririsan. Hampir tanpa jeda. Karena dia. Ya, dia yang ini yang datang belum lama belakangan ini.
Percayakah kau tentang cinta? Baiklah, sebelum aku akhiri monolog hati ini, maukah kau mengganti perih ini dengan bahagia?
****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar