Perawakannya
tinggi besar, namun tidak gempal. Umurnya baru menginjak dua belas tahun. Dahulu,
dia anak yang sangat nakal. Sekarang? Masih sama, nakal juga. Itulah
alasan kenapa ibunya memanggilnya, Bambang -berasal dari bahasa Makassar yang
berarti ‘panas’- karena kenakalan
yang bikin stres kedua orangtuanya. Tiap hari, kerjaannya cuma berkelahi dan
berkelahi. Malah saat disuruh mengisi biodata di kelas tiga oleh ibu
Guru, yang tertulis di situ ; ‘Menjadi
Tukang Pukul. Siapa Rewa? Maju semuanya!’
Mungkin
gara-gara hobinya itulah, hingga dia dinobatkan oleh teman-temannya, sebagai
salah satu dari 100 tokoh paling berpengaruh di Rappokalling. Dia ditakuti -tentunya
oleh kalangan anak sebayanya. Dia dituakan -bukan karena umurnya- tapi karena
perawakannya yang memang berbeda, melebihi anak seusianya.
Padahal,
namanya terdiri dari dua manusia mulia, penyandang gelar kekasih Allah
SWT di dunia ini, Muhammad Ibrahim. Harapannya, agar kelak dia bertumbuh menjadi
anak yang soleh. Namun apa mau dikata, justru kepribadiannya jauh berbeda dari
kedua sosok manusia mulia tersebut.
Berhasil
menaklukkan anak-anak sekampungnya, bukannya berhenti, malah obsesinya untuk
menjadi tukang pukul, tiap hari makin menjadi-jadi saja. Bahkan, lebih dari sebulan
yang lalu, dia mulai melakukan ekspansi kekuasaan di desa-desa tetangga. Gempar?
Itu sudah pasti. Tiap anak yang ditemuinya, selalu diajaknya berkelahi. Pernah dia
dikeroyok sepuluh orang, dilawan semuanya, dan menang.
Dia
memang hebat -brutal kalo kata lawan-lawannya. Dalam sekejap, desa-desa
tetangga pun takluk dan mengakui keberaniannya. Terhitung, sepuluh desa takluk
diumurnya yang masih belia -rasa-rasanya itu sudah cukup untuk mencalonkan diri
menjadi kepala desa dimasa mendatang. Dan seiring dengan itu, dia pun mendapat dua
julukan baru lagi ; Bambang Si Tukang Jagal, sekaligus Bambang Anaknya Pak Saepuddin. Pak
Saepuddin, itu nama bapaknya.
Namun...
Seketika semua itu berbalik arah tiga ratus enam puluh derajat -kurang-kurang sedikit. Sebabnya tidak lain saat dia pulang sehabis berkelahi, didapatinya Ibunya yang sedang terbaring lemah menahan sakit. Pelan dia mendekat, lalu duduk di samping
beliau.
“Ibu
kenapa? Ibu sa-kit?”
“Anak
ibu habis berkelahi lagi?” Ibunya balik bertanya, seraya memperhatikan keadaan
anaknya dari ujung ke ujung. Rambut berantakan. Pelipis benjol. Kening lebam.
Hidung berdarah. Bibir bengkak. Baju robek sana-sini. Antara wajah dengan baju,
hampir sama kusutnya, berantakan tidak karuan. Sontak jiwa beliau ikut sakit menyusul jasmaninya.
“Kemari
sayang, biar ibu peluk!”
Diraihnya kepala Bambang masuk ke dalam pelukan hangat itu. Kemudian ditatanya kembali rambut berantakan itu hingga benar-benar rapi. “Muhammad Ibrahim, anak Ibu. Ibu sayang sama, Bambang. Sa-yaang sekali. Ibu sedih tiap kali Bambang pulang berdarah-darah. Ibu tidak pernah berharap melahirkan Bambang sebagai anak nakal. Kalo saja Ibu tahu bakal jadi begini, lebih baik Ibu tidak pernah melahirkan Bambang ke dunia ini. Bambang tinggal saja di perut Ibu selamanya. Tidak apa-apa! Ibu tidak keberatan mengandung Bambang selamanya.”
Diraihnya kepala Bambang masuk ke dalam pelukan hangat itu. Kemudian ditatanya kembali rambut berantakan itu hingga benar-benar rapi. “Muhammad Ibrahim, anak Ibu. Ibu sayang sama, Bambang. Sa-yaang sekali. Ibu sedih tiap kali Bambang pulang berdarah-darah. Ibu tidak pernah berharap melahirkan Bambang sebagai anak nakal. Kalo saja Ibu tahu bakal jadi begini, lebih baik Ibu tidak pernah melahirkan Bambang ke dunia ini. Bambang tinggal saja di perut Ibu selamanya. Tidak apa-apa! Ibu tidak keberatan mengandung Bambang selamanya.”
“Ibu
sakit gara-gara Bambang suka berkelahi ya? Biarpun Bambang nakal, tapi kan Bambang
juga sayang sama, Ibu. Buktinya, Bambang tidak pernah melawan sama, Ibu.”
“Iya
sayang, Ibu juga tahu. Bambang kalo di rumah, itu jadi anak yang baik. Tapi Bambang…
Ibu sakit sa-yang. Rasa-rasanya, Ibu tidak akan bertahan lebih lama lagi.
Sebentar lagi, Ibu akan meninggalkan Bambang seorang diri. Ibu hanya berharap,
saat Ibu pergi, Bambang bisa jadi anak yang baik, soleh, entah itu di rumah
atau di mana saja. Ibu juga berharap, tiap hari Bambang mendoakan Ibu tiap kali
selesai sholat. Tapi, bagaimana mau dikabulkan doanya, kalo Bambang jadi anak
yang nakal seperti ini. Muhammad Ibrahim, anak Ibu… Allah tidak mengabulkan doa anak, selain
anak yang sholeh, Sayang. Tidak ada itu! Jadi kalo, Bambang, memang sayang sama,
Ibu, Bambang harus jadi anak yang sholeh, yang gemar beribadah kepada Allah!
Bukan menjadi tukang pukul, sesuai cita-cita Bambang yang bikin Ibu sedih tiap
kali memikirkan anak kesayangan, Ibu. Ibu sangat menyayangi, Bambang. Sa-yaang
sekali.”
Oleh beliau, kembali didekapnya kepala itu lebih erat lagi, penuh kasih sayang. Kemudian dikecupnya kening anak itu berkali-kali. Bambang sendiri, hanya diam, berusaha meresapi apa yang dikatakan Ibunya.
Oleh beliau, kembali didekapnya kepala itu lebih erat lagi, penuh kasih sayang. Kemudian dikecupnya kening anak itu berkali-kali. Bambang sendiri, hanya diam, berusaha meresapi apa yang dikatakan Ibunya.
“Muhammad
Ibrahim, anak Ibu… Se-ka-rang, Ibu ingin istirahat sayang. Ibu ingin istirahat
dengan tenang.” ujar Ibunya, lemah. Lalu, menghilang.
“Ibuuuuuuuuu…
Ibuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu....” teriak Bambang histeris.
“Astaga… Jangan teriak-teriak, Bambang! Ibu tidak bisa tidur.”
“Hah…”
desah Bambang, bingung. “Ya sudah, Bambang juga mau tidur di samping, Ibu.”
Rupanya,
istirahat yang dimaksudkan beliau, bukan untuk selama-lamanya. Melainkan,
pengaruh obat yang mulai bekerja. Tapi memang demikian adanya, sebulan berikutnya,
beliau menghembuskan nafas terakhirnya, dipelukan anak dan suami yang dicintainya.
Beliau pergi dengan tenang.
Bambang
sendiri, walau masih terlalu sering didera rasa sedih akibat kerinduan, terkadang menangis sendiri tatkala mencari Ibunya.
Satu hal yang selalu dia ingat, tentang sebuah harapan yang dititipkan beliau untuk
dirinya ; Dia harus menjadi anak yang sholeh-sesholeh-solehnya, apappun caranya.
Maka dari itu, ketika mulai kembali bersekolah, hal pertama yang dia lakukan, itu menemui guru kelas tiganya untuk merevisi biodatanya. Untungnya, biodata itu diarsipkan, jadi masih bisa ketemu. Apalah jadinya satu sekolah, jika berkas itu sampai hilang? Gempar, itu sudah pasti.
Maka dari itu, ketika mulai kembali bersekolah, hal pertama yang dia lakukan, itu menemui guru kelas tiganya untuk merevisi biodatanya. Untungnya, biodata itu diarsipkan, jadi masih bisa ketemu. Apalah jadinya satu sekolah, jika berkas itu sampai hilang? Gempar, itu sudah pasti.
“Ibu
Guru… Namaku, Muhammad Ibrahim, anak kesayangan, Ibuku. Boleh juga dipanggil, Bambang. Cita-citaku, menjadi anak sholeh. ANAK SHOLEH IBU GURU. Terima kasih.
Assalamu alaikum.”
Kemudian
Bambang pergi, meninggalkan Ibu Guru yang menatapnya terheran-heran. Tapi kemudian,
ikut tersenyum melihat tekad dari anak muridnya itu.
“Aamiin… Muhammad Ibrahim. Waalaikum salam, Nak.”#Bersambung#