Kamis, 26 Juni 2014

Serial Bambang : Muhammad Ibrahim, Itu Namaku!



Perawakannya tinggi besar, namun tidak gempal. Umurnya baru menginjak dua belas tahun. Dahulu, dia anak yang sangat nakal. Sekarang? Masih sama, nakal juga. Itulah alasan kenapa ibunya memanggilnya, Bambang -berasal dari bahasa Makassar yang berarti ‘panas’- karena kenakalan yang bikin stres kedua orangtuanya. Tiap hari, kerjaannya cuma berkelahi dan berkelahi. Malah saat disuruh mengisi biodata di kelas tiga oleh ibu Guru, yang tertulis di situ ; ‘Menjadi Tukang Pukul. Siapa Rewa? Maju semuanya!’
Mungkin gara-gara hobinya itulah, hingga dia dinobatkan oleh teman-temannya, sebagai salah satu dari 100 tokoh paling berpengaruh di Rappokalling. Dia ditakuti -tentunya oleh kalangan anak sebayanya. Dia dituakan -bukan karena umurnya- tapi karena perawakannya yang memang berbeda, melebihi anak seusianya.
Padahal, namanya terdiri dari dua manusia mulia, penyandang gelar kekasih Allah SWT di dunia ini, Muhammad Ibrahim. Harapannya, agar kelak dia bertumbuh menjadi anak yang soleh. Namun apa mau dikata, justru kepribadiannya jauh berbeda dari kedua sosok manusia mulia tersebut.
Berhasil menaklukkan anak-anak sekampungnya, bukannya berhenti, malah obsesinya untuk menjadi tukang pukul, tiap hari makin menjadi-jadi saja. Bahkan, lebih dari sebulan yang lalu, dia mulai melakukan ekspansi kekuasaan di desa-desa tetangga. Gempar? Itu sudah pasti. Tiap anak yang ditemuinya, selalu diajaknya berkelahi. Pernah dia dikeroyok sepuluh orang, dilawan semuanya, dan menang.
Dia memang hebat -brutal kalo kata lawan-lawannya. Dalam sekejap, desa-desa tetangga pun takluk dan mengakui keberaniannya. Terhitung, sepuluh desa takluk diumurnya yang masih belia -rasa-rasanya itu sudah cukup untuk mencalonkan diri menjadi kepala desa dimasa mendatang. Dan seiring dengan itu, dia pun mendapat dua julukan baru lagi ; Bambang Si Tukang Jagal, sekaligus Bambang Anaknya Pak Saepuddin. Pak Saepuddin, itu nama bapaknya.
Namun... Seketika semua itu berbalik arah tiga ratus enam puluh derajat -kurang-kurang sedikit. Sebabnya tidak lain saat dia pulang sehabis berkelahi, didapatinya Ibunya yang sedang terbaring lemah menahan sakit. Pelan dia mendekat, lalu duduk di samping beliau.
“Ibu kenapa? Ibu sa-kit?”
“Anak ibu habis berkelahi lagi?” Ibunya balik bertanya, seraya memperhatikan keadaan anaknya dari ujung ke ujung. Rambut berantakan. Pelipis benjol. Kening lebam. Hidung berdarah. Bibir bengkak. Baju robek sana-sini. Antara wajah dengan baju, hampir sama kusutnya, berantakan tidak karuan. Sontak jiwa beliau ikut sakit menyusul jasmaninya.
“Kemari sayang, biar ibu peluk!” 
Diraihnya kepala Bambang masuk ke dalam pelukan hangat itu. Kemudian ditatanya kembali rambut berantakan itu hingga benar-benar rapi. “Muhammad Ibrahim, anak Ibu. Ibu sayang sama, Bambang. Sa-yaang sekali. Ibu sedih tiap kali Bambang pulang berdarah-darah. Ibu tidak pernah berharap melahirkan Bambang sebagai anak nakal. Kalo saja Ibu tahu bakal jadi begini, lebih baik Ibu tidak pernah melahirkan Bambang ke dunia ini. Bambang tinggal saja di perut Ibu selamanya. Tidak apa-apa! Ibu tidak keberatan mengandung Bambang selamanya.”
“Ibu sakit gara-gara Bambang suka berkelahi ya? Biarpun Bambang nakal, tapi kan Bambang juga sayang sama, Ibu. Buktinya, Bambang tidak pernah melawan sama, Ibu.”
“Iya sayang, Ibu juga tahu. Bambang kalo di rumah, itu jadi anak yang baik. Tapi Bambang… Ibu sakit sa-yang. Rasa-rasanya, Ibu tidak akan bertahan lebih lama lagi. Sebentar lagi, Ibu akan meninggalkan Bambang seorang diri. Ibu hanya berharap, saat Ibu pergi, Bambang bisa jadi anak yang baik, soleh, entah itu di rumah atau di mana saja. Ibu juga berharap, tiap hari Bambang mendoakan Ibu tiap kali selesai sholat. Tapi, bagaimana mau dikabulkan doanya, kalo Bambang jadi anak yang nakal seperti ini. Muhammad Ibrahim, anak Ibu… Allah tidak mengabulkan doa anak, selain anak yang sholeh, Sayang. Tidak ada itu! Jadi kalo, Bambang, memang sayang sama, Ibu, Bambang harus jadi anak yang sholeh, yang gemar beribadah kepada Allah! Bukan menjadi tukang pukul, sesuai cita-cita Bambang yang bikin Ibu sedih tiap kali memikirkan anak kesayangan, Ibu. Ibu sangat menyayangi, Bambang. Sa-yaang sekali.” 
Oleh beliau, kembali didekapnya kepala itu lebih erat lagi, penuh kasih sayang. Kemudian  dikecupnya kening anak itu berkali-kali. Bambang sendiri, hanya diam, berusaha meresapi apa yang dikatakan Ibunya.
“Muhammad Ibrahim, anak Ibu… Se-ka-rang, Ibu ingin istirahat sayang. Ibu ingin istirahat dengan tenang.” ujar Ibunya, lemah. Lalu, menghilang.
“Ibuuuuuuuuu… Ibuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu....” teriak Bambang histeris.
“Astaga… Jangan teriak-teriak, Bambang! Ibu tidak bisa tidur.”
“Hah…” desah Bambang, bingung. “Ya sudah, Bambang juga mau tidur di samping, Ibu.”
Rupanya, istirahat yang dimaksudkan beliau, bukan untuk selama-lamanya. Melainkan, pengaruh obat yang mulai bekerja. Tapi memang demikian adanya, sebulan berikutnya, beliau menghembuskan nafas terakhirnya, dipelukan anak dan suami yang dicintainya. Beliau pergi dengan tenang.
Bambang sendiri, walau masih terlalu sering didera rasa sedih akibat kerinduan, terkadang menangis sendiri tatkala mencari Ibunya. Satu hal yang selalu dia ingat, tentang sebuah harapan yang dititipkan beliau untuk dirinya ; Dia harus menjadi anak yang sholeh-sesholeh-solehnya, apappun caranya.
Maka dari itu, ketika mulai kembali bersekolah, hal pertama yang dia lakukan, itu menemui guru kelas tiganya untuk merevisi biodatanya. Untungnya, biodata itu diarsipkan, jadi masih bisa ketemu. Apalah jadinya satu sekolah, jika berkas itu sampai hilang? Gempar, itu sudah pasti.
“Ibu Guru… Namaku, Muhammad Ibrahim, anak kesayangan, Ibuku. Boleh juga dipanggil, Bambang. Cita-citaku, menjadi anak sholeh. ANAK SHOLEH IBU GURU. Terima kasih. Assalamu alaikum.”
Kemudian Bambang pergi, meninggalkan Ibu Guru yang menatapnya terheran-heran. Tapi kemudian, ikut tersenyum melihat tekad dari anak muridnya itu.
            “Aamiin… Muhammad Ibrahim. Waalaikum salam, Nak.”

                                                                       #Bersambung#

Sinopsis : Jalan Panjang Menuju Cahaya



Pernahkah kalian dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama sulit?. Apa yang kalian lakukan?. Memilih hanyut terseret, ataukah berenang mengikuti arus?
Mungkin hal itulah yang dirasakan oleh kedua bersaudara ini, Ari dan Jaka, saat terpaksa harus memilih jalan yang terbersit di benak mereka pun, tidak pernah. Jalan yang dipenuhi kekerasan, sarat intimidasi.
Bagaimanakah mereka berjuang melaluinya, menghadapi setiap rintangan yang menghadang, melewati setiap cobaannya?. Lalu bagaimana dengan Arin ; Apa yang membuatnya sanggup bertahan selama itu, saat menanti cinta yang tak kunjung hadir? Bagaimanakah caranya merawat rindunya?. Dan pesona apakah yang membuat rindu itu, hingga sanggup berbalik ke sosok yang lain?
Sebuah novel kritik sosial yang mencoba membandingkan ; Bagaimana model kepemimpinan seorang preman, dengan kepemimpinan para penguasa di negara ini? Bercampur, berbaur dengan manisnya cinta, getirnya kerinduan, dan pahitnya kesedihan. Temukan semua jawabannya di novel yang sedang anda pegangi saat ini.

Sabtu, 21 Juni 2014

Monolog Hati : Dia (AFF)



Dia (AFF)
Bukan bermaksud mencari perbandingan di antara keduanya, melainkan hanya ingin mencocokkan apa arti dari kesamaan itu. Bukankah cinta juga menawarkan rasa perih?. Namun jika dalam dua kasus yang berbeda rasa perihnya sama saja, apakah itu juga layak disebut mencintai?
Dulu, pernah ada dia yang lain yang hadir dalam hidupku. Bahagia? Tentu saja itu pasti. Sedih? itu adakalanya. Tertawa? terlalu sering kami lalui bersama. Berdua, aku tahu betapa indahnya dunia tempat berpijak ini. Di dekatnya, terasa jelas bahwa energi cinta mampu menghangatkan jiwa yang telah beku.
Lalu dia… Kenapa harus dia? Rasa yang sama yang hadir saat dia yang lain pergi dari sisiku. Sakit, terasa sakit, dalam menghujam ulu hati. Bukankah itu aneh? Bahkan disaat aku mencoba mengalihkan perhatianku pun, tetap saja dia yang ini mampu menabur perih di relung hati.
Bukan kali ini saja aku merasakannya. Entah bermula dari mana, aku tidak tahu. Bahkan untuk sekedar tahu ; Kenapa berterusan terhujam perih, itupun terasa buram bagiku.
Aku tertikam perih. Entah apa. Entah kenapa. Tiap hari. Berterusan. Beririsan. Hampir tanpa jeda. Karena dia. Ya, dia yang ini yang datang belum lama belakangan ini.
Percayakah kau tentang cinta? Baiklah, sebelum aku akhiri monolog hati ini, maukah kau mengganti perih ini dengan bahagia?
****