Kamis, 09 Januari 2014

Renungan



Di dunia ini, tidak semua yang kita inginkan bisa terwujud seketika itu juga. Ada kalanya kita dibuat kecewa oleh keputusan dari sang penentu kebijakan. Tapi bukannya lapang dada menerima itu, bahkan terlalu sering kita menggerutu dengan apa yang terjadi.
Manusia memang diciptakan memiliki sifat egoisme tingkat tinggi. Gembira saat harapan terwujud. Dan menggerutu saat harapan cantas oleh kenyataan. Bahkan, terlalu sering kita mendengar gerutuan dari segelintir orang karena hal-hal sepele. Kemudian, sengaja dibuat besar dengan maksud cari perhatian.
Contohnya ketika hujan sedang turun, terlalu banyak dari kita yang menggerutu karena batal inilah, batal itulah. Egoiskah itu?. Seratus koma satu persen, IYA EGOIS SEKALI!. Seharusnya kita sadar, pada saat kita menggerutu, mungkin disuatu daerah ada sekumpulan manusia sedang bersuka cita oleh datangnya hujan yang telah lama dinanti. Sawah terairi. Cadangan air tanah bertambah. Anak-anak kecil bermain air.
Pun saat matahari sedang terik-teriknya, terlalu banyak kita dengar gerutuan dari manusia-manusia yang tidak terima keadaan tersebut. Gerahlah, kulit jadi hitamlah, bedak lunturlah. Bukankah itu sangat sepele?. Sementara di daerah lain, mungkin ada banyak orang yang mengharapkan keadaan tersebut. Cucian menjadi kering. Padi bisa dijemur. Anak-anak kecil bisa bermain layangan.
Seperti saat suasana pengambilan keputusan, suara terbanyaklah yang diikuti. Lalu siapa kita sebenarnya, apa hak kita untuk mengugat keputusan itu, sementara untuk bersuara pun baru kita lakukan saat itu terjadi, itu pun dengan gerutuan?. Pantaskah kita melakukannya? Sementara, mereka mungkin telah lama menengadah, meminta dan berharap. Dari sinilah Ke-Maha Adil-an Allah Subhana Wa Taala yang memberikan rahmatnya bagi orang yang telah lama membutuhkan.
STOP menggerutu!. STOP jadi manusia egois di dunia ini. STOP menjadi manusia yang seenaknya meragukan ke-Maha Pengasih-an Allah Subhana Wa Taala.

2 komentar:

  1. Renungan yang bagus. Manusia memang dihadapkan pada tantangan terbesar: egoismenya sendiri.

    BalasHapus